Monday, December 19, 2016
Sirah - Asal Usul Nenek Moyang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam #2
بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إنَّ الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ونتوب إليه، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،
أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه لا نبي بعده
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Ikhwani fillāh, sebelum kita menjelaskan tentang nasab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, kita sampaikan tentang sejarah Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām secara singkat bagaimana Nabi Ismā'īl 'alayhissalām sampai ke Mekkah.
Kita tahu bahwasanya Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām dilahirkan di negeri 'Irāq. Tumbuh di atas tauhid, lalu mendakwahi kaumnya. Tatkala itu kaumnya menyembah berhala, diantaranya juga ayahnya.
Ayahnya pun marah dan berkata:
لَئِن لَّمْ تَنتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ
"Aku akan merajammu."
(QS Maryam: 46)
Diusir dan diancam oleh ayahnya, dimusuhi oleh kaumnya dan akhirnya Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām keluar dari kaum tersebut, sementara kaumnya dalam keadaan musyrik.
Kemudian berjalanlah Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām ke negeri Syam. Disana beliau menikah dengan seorang wanita yang cantik jelita, namanya Sārah.
Di sana juga ternyata orang-orangnya kafir penyembah bintang, benda-benda langit. Nabi Ibrāhim juga mendakwahi mereka.
Oleh karenanya Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām dikenal dengan "Bapak Tauhid" karena beliau yang mendakwahkan tauhid. Dan menemukan 2 model kesyirikan pada masanya, yaitu para penyembah berhala dan penyembah benda-benda langit.
Kemudian setelah menikah bertahun-tahun dengan Sārah tapi belum memiliki anak. Akhirnya suatu hari Sārah pun berjalan bersama Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām melewati negeri Mesir, seperti dalam Shahih Bukhari dan yang lainnya.
Di negeri Mesir terkenal dengan seorang raja yang mata keranjang yang memiliki intel-intel (petugas khusus) untuk melirik wanita yang cantik. Kalau ada wanita yang cantik maka harus menjadi miliknya.
Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām mengerti berita ini sehingga tatkala mereka melewati negeri Mesir, Ibrāhīm 'alayhissalām berkata kepada istrinya:
"Kalau mereka bertanya kepadamu, kau katakan bahwa aku adalah saudaramu karena aku tidak tahu di atas muka bumi ini yang Islam kecuali saya dan kamu, wahai istriku."
Artinya di negeri Mesir tidak ada yang Islam kecuali mereka berdua. Nabi Lūth (sepupunya Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām) juga seorang Nabi tapi di negeri yang lain.
Akhirnya benar, tatkala melewati, maka terlihatlah oleh para pengikut raja dan mereka mengatakan:
"Wahai Raja, ada seorang wanita yang tidak boleh selain untukmu."
Maka diambillah Sārah dan ditanyakan kepadanya siapakah Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām.
Kalau Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām mengatakan, "Saya adalah suaminya," maka dia akan dibunuh. Tetapi kalau mengatakan, "Saya adalah saudaranya (kakak/adiknya)," maka tidak dibunuh.
Maka akhirnya Sārah diambil Sang Raja dan dimasukkan ke dalam kamarnya. Tatkala Sang Raja ingin menggauli, Sārah berdo'a dan Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām shalat dan berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Tiba-tiba kedua tangan Sang Raja terikat tidak bisa bergerak dan berkata:
"Wahai Sārah, berdo'alah kepada Tuhanmu agar membukakan ikatan kedua tanganku dan aku tidak akan mengganggumu."
Maka Sārah berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, maka kedua tangan Raja tersebut terbuka, tatkala terbuka dari belenggunya, diapun tidak kuasa melihat kecantikan Sārah, dia maju lagi untuk menggauli Sārah.
Maka ketika mendekati Sārah, tangannya terikat kembali dan lebih parah dari sebelumnya. Sehingga dia berkata lagi:
"Wahai Sārah, sudah saya tidak akan mengganggu kamu lagi, do'akan kepada Allāh supaya terbuka tanganku ini."
Maka Sārah berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, lalu kedua tangan Raja terbuka, begitu terbuka dia tak kuasa lagi saking cantiknya Sārah, maka dia maju lagi untuk mendekati Sārah untuk ketiga kalinya.
Maka tiba-tiba tangannya terbelenggu lebih kuat daripada dua kali sebelumnya. Maka dia mengatakan:
"Sudah, saya taubat dan ini terakhir, berdo'alah agar terbuka kedua tanganku."
Maka Sārah berdo'a dan terbukalah kedua tangan Raja dan dia mengatakan kepada anak buahnya:
"Kalian tidak mendatangkan kepadaku seorang wanita tetapi kalian telah mendatangkan kepadaku seorang syaithan."
Akhirnya karena Raja ini menghargai Sārah, diapun memberikan kepada Sārah seorang wanita yang namanya Hajar, dijadikan pembantu Sārah.
Maka berjalanlah Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām bersama istrinya dari negeri tersebut bersama seorang penghuni keluarga baru yaitu Hajar, pembantu mereka berdua, menjalani kehidupan.
Namun, bertahun-tahun berikutnya ternyata Sārah tidak juga mengandung, sampai Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām dan Sārrah sudah mulai tua. Sārah kasihan melihat suaminya. Suaminya harus memiliki keturunan, maka menikahlah Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām dengan pembantunya, Hajar. Jadi yang menawarkan kepada suaminya adalah istrinya.
Maka Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām menikah dengan Hajar dan akhirnya Hajar mengandung, yaitu Ismā'īl 'alayhissalām.
Tatkala itu Sārah cemburu kepada Hajar, maka diapun benci kepada Hajar dan akhirnya Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām mengantarkan Hajar ke Mekkah untuk berhijrah, membawa putrannya, Ismā'īl 'alayhissalām dalam rangka untuk menjauhkan supaya tidak cekcok terus antara Sārah dengan Hajar.
Demikianlah tabi'at wanita, akan tetapi Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām tidak mencaci maki Sārrah, karena kecemburuan itu wajar, kecemburuan itu mustahil bisa dihilangkan. Kecemburuan itu ada manfaatnya dan ada juga kekurangannya.
Diantara manfaatnya, seorang istri akan sangat sayang kepada suami jika ada rasa cemburu, lebih perhatian. Jika tidak ada rasa cemburu maka istri akan cuek saja. Namun cemburu ini tidak dijadikan bahan celaan oleh Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām dan membawa pergi Hajar ke Mekkah.
Dan kisahnya panjang dalam Shahih Bukhari.
Intinya, Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām meletakkan Hajar dan Ismā'īl 'alayhissalām ke Mekkah kemudian pergi.
Kemudian tatkala Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām melangkahkan kakinya, tidak berbalik, maka Hajar mengejar suaminya dan mengatakan:
"Wahai Ibrāhīm, apakah engkau meninggalkan aku dan putramu ditempat yang tidak ada sesuatupun?"
Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām tidak menoleh, dan jalan terus.
Lalu Hajar mengejar dan berkata:
"Wahai Ibrāhīm, apakah engkau meninggalkan aku ditempat yang tandus tidak ada apa-apa?"
Tetapi Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām jalan terus. Yang ketiga kalinya dipanggil lagi tidak balik.
Maka Hajar berkata:
"Apakah Allāh yang telah memerintahkan engkau dengan hal ini?"
Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām menjawab:
"Ya, Allāh yang perintahkan."
Maka kata Hajar:
"Kalau begitu Allāh tidak akan meninggalkan/menyia-nyiakan kami."
Maka Ibrāhīm 'alayhissalām pun berkata setelah berjalan agak jauh, dia mengangkat tangan dan berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dengan do'anya:
رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
"Ya Allāh, aku meletakkan anakku/keluargaku ditempat ini yang tandus tidak ada tanaman di dekat rumahmu (Baitullāh) yang dihormati. ya Allāh, demikian itu untuk menegakkan shalat, maka jadikanlan hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."
(QS Ibrāhīm 37)
Anak dan istrinya sangat dicintainya, tetapi dia tidak ingin berdo'a dan diketahui mereka, maka Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām menjauh dan berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Akhirnya benar, Allāh menjaga Hajar dan sebagaimana kita ketahui ceritanya dalam Shahih Bukhari dan yang lainnya.
Ibrāhīm 'alayhissalām hanya memberikan bekal sekantung kurma dan sekantung air.
Maka di awal-awal hari masih cukup, tapi tatkala bekal sudah habis dan air susu tidak keluar lalu apa yang disusukan kepada Ismā'īl 'alayhissalām?
Kita cukupkan disini saja, in syā Allāh besok kita lanjutkan lagi.
وبالله التوفيق والهداية
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
__________
Sirah - Asal Usul Nenek Moyang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam #1
بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إنَّ الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ونتوب إليه، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،
أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه لا نبي بعده
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Ikhwani fillah, kita mulai mempelajari sirah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan menjelaskan bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam diutus oleh Allāh di jazirah Arab.
Para ulama menjelaskan (sekedar mencari hikmah) kenapa Allāh Subhānahu wa Ta'āla menurunkan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam di jazirah Arab.
Sebagian orang yang mungkin tidak suka dengan Arab mengatakan bahwa karena dulu Arab sangat biadab. Memang benar banyak kebiadaban tatkala itu.
Tapi jangan lupa, meskipun dalam sisi jahiliyyah, memang mereka dahulu: makan bangkai, berzina, penuh dengan kerusakan, menyembah patung, berbuat kesyirikan, ada yang menyiksa budak mereka, tetapi mereka juga memiliki sifat-sifat yang mulia, contohnya kejujuran.
Pada zaman dahulu, bangsa Arab terkenal dengan:
• kejujuran
• memuliakan tamu
Para ulama menyebutkan tentang jazirah Arab, bahwa banyak sisi positif kenapa nabi terakhir Allāh pilihkan ke jazirah Arab.
Sebelumnya, kebanyakan nabi-nabi di negeri Syam, namun khusus nabi penutup, Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam, Allāh utus di jazirah arab karena:
⑴ Bahwasanya jazirah Arab adalah jazirah yang gersang, berisi bebatuan dan padang pasir.
Dan العرب (al-'arab) dalam bahasa Arab kembali kepada makna padang pasir bebatuan, tanah tandus, tidak ada tumbuhan.
Sehingga meskipun jazirah Arab diliputi oleh negara adidaya tatkala itu seperti Persia dan Romawi namun mereka tidak punya kekuatan untuk masuk ke jazirah Arab dan tidak ada keuntungannya juga mereka menjajahi daerah padang pasir. Tidak akan mendapatkan apa-apa.
⑵ Untuk menguasai jazirah Arab adalah berat, karena melewati padang pasir beribu-ribu kilometer.
Mereka tidak terbiasa dengan medan yang berat seperti itu, tandus tanpa ada air dan tumbuh-tumbuhan.
Oleh karenanya orang-orang Arab bebas tatkala itu, tidak ada pihak luar. Padahal ada Persia dan Romawi yang begitu kuat namun tidak mampu menguasai jazirah Arab. Padahal mereka menguasai negara-negara yang lain.
⑶ Tatkala itu tidak ada agama yang satu, agama mereka tercerai berai. Ada yang menyembah malaikat, patung, nabi, benda-benda langit sehingga tidak ada kesatuan aqidah.
Jika ada kesatuan aqidah maka sulit untuk ditembus (didakwahi). Kalau orang yang sudah punya keyakinan dan bersatu karena aqidah, akan sulit ditembus.
Kemudian kalaupun mereka menyembah patung, patungpun bermacam-macam, tidak ada satu kesatuan patung
Tiap-tiap suku memiliki patung masing-masing yang mereka bangga dan ibadah kepadanya.
Maka mudah bagi seorang Rasūl untuk mendakwahi. Berbeda jika mereka bersatu padu dalam satu keyakinan, ini berat.
⑷ Jazirah Arab yang begitu luas ternyata bahasa mereka satu.
Ini sangat penting. Dari negeri Yaman sampai Mekkah bahasanya satu yaitu bahasa Arab.
Beda dengan di Indonesia yang memiliki banyak bahasa karena memiliki banyak suku.
Kesamaan bahasa ini membuat dakwah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam lebih mudah dan cepat menyebar karena seluruhnya berbahasa Arab.
Wallāhu a'lam bishshawāb, yang jelas demikianlah, Allāh lebih tahu hikmahnya. Siapa yang Allāh pilih menjadi Rasūl-Nya dan dimana diturunkan, itu hak Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Ini hanya sekedar ijtihad dari para ulama tatkala ingin mencari sebab kenapa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam diutus di jazirah Arab.
Kemudian, ketika kita berbicara tentang suku Arab maka kita berbicara tentang nasab/keturunan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Beliau adalah keturunan Nabi Ismā'īl, dan Nabi Ismā'īl adalah keturunan Nabi Ibrāhīm.
Nabi Ibrāhīm bukan orang Arab dan bahasanya bukan bahasa Arab. Nabi Ibrāhīm lahir di 'Irāq, disuatu daerah namanya 'Urq. Oleh karenanya Arabnya Nabi Muhammad bukan Arab asli Yaman.
Para ulama menjelaskan suku Arab ada 3 model:
⑴ Al 'Arab Al Bāidah (العرب البائدة), Arab yang telah punah.
Kita katakan lafazh Arab itu asalnya kepada tempat yang bebatuan, padang pasir, tetapi diithlaqkan juga kepada penghuni tempat tersebut, sebagaimana penjelasan para ulama.
Banyak suku-suku Arab yang sudah punah yang sudah tidak ada lagi. Diantaranya:
• Suku 'Ād (kaumnya Nabi Hūd 'alayhi wa sallam).
• Suku Tsamūd (kaumnya Nabi Shālih 'alayhi wa sallam).
Allāh sebutkan kisah mereka dalam Al Qurān.
⑵ Al 'Arab Al 'Āribah (العرب العاربة), arab asli.
Kata para ulama, Arab asli kembali kepada suku Al Qahthaniyyah yang asalnya arab dari Yaman.
Diantaranya ada suku yang namanya Sabā. Dari Sabā ini keluar 2 suku yang sangat besar yaitu Kahlan dan Khimyar, dari kedua suku inilah muncul berbagai macam kabilah. Dan kabilah-kabilah tersebut sebagiannya dari Yaman berhijrah ke Mekkah dan Madinah.
⑶ Al 'Arab Al Musta'rabah (العرب المستعربة)
Adapun Arabnya Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam, dia bukan Arab Al-Bā'idah yang telah punah, bukan juga Arab asli. Tetapi Beliau Arab Al Musta'rabah, Arab yang tadinya bukan Arab tetapi menjadi Arab.
Kenapa?
Karena Nabi Muhammad adalah keturunan Nabi Ibrāhīm dan Nabi Ibrāhīm bukan orang Arab.
Kalau kita lihat dari ras, ras itu kembali kepada ayah. Kalau kita kembalikan alur Nabi kepada ayah, maka dia akan kembali kepada Nabi Ibrāhīm dan beliau bukan Arab.
Lalu siapa diantara anak Nabi Ibrāhīm yang menjadi Arab? Yaitu Nabi Ismā'īl.
Kita cukupkan disini saja, in syā Allāh besok kita lanjutkan lagi.
وبالله التوفيق والهداية
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
__________
Tuesday, October 25, 2016
SKI #1
Dari status facebook Ismail Amin
kau kenal khalifah Abu Bakar?
dia khalifah yang tidak lebih nikmat hidupnya dari pembantunya.... semua hartanya dia sumbangkan untuk perjuangan Islam, meski berkuasa, dia tidak memperkaya keluarganya, dia juga tidak mewariskan tahta kekhalifaan untuk keturunannya...
kau kenal khalifah Umar?
dia tidak segan2 saling berganti mengendarai kuda dengan ajudannya menuju Baitul Maqdis.. dia dengan mudah ditemui beristirahat dibawah pohon tanpa pengawal... istananya adalah gubuk pribadinya yang sederhana, tidak perlu keprotokoleran untuk menemui dan mengadu padanya dia lebih mengutamakan keluarga Nabi dari keluarganya sendiri... tdk sedikitpun harta baitul mall dia gunakan untuk kepentingan pribadinya, kau ingat, jika untuk bicara persoalan pribadi dengan tamunya, dia lakukan itu dalam gelap krn tdk mau menggunakan uang negara untuk kepentingan pribadi...
kau kenal Khalifah Utsman?
dia sahabat Nabi yang sangat dermawan, saat jadi khalifah dipikirannya hanya kemajuan umat Islam, bukan hanya dizamannya tapi juga masa depan umat Islam... dia gagas penyatuan mushaf Al-Qur'an... dia perluas masjidil haram dan nabawi dan memperlakukan tamu2 Allah dengan sebaik2nya pengagungan.... lisannya senantiasa basah oleh zikir dan bacaan al Qur'an, bahkan konon saat dibunuh pemberontakpun Ia sedang khusyuk pada bacaan Al-Qur'annya...
kau kenal khalifah Ali?
dia makannya roti keras dengan alasan, orang2 miskin akan bangga, punya makanan sama dengan khalifah dan agar orang2 kaya tidak berlebihan... keadilannya tdk pandang bulu, semua sama haknya dihadapan hukum... pakaiannya keras bahkan bertambal, pakaian anak2nya tdk lebih bagus dari pakaian rakyat jelata... dalam mengangkat gubernur2, dia memilih karena kredibilitas bukan karena dekatnya kekerabatan dan hubungan keluarga...
sekarang...
kau kenal khalifah Muawiyah?
dia memposisikan dirinya sebagai raja. Punya istana hijau yang megah. Keluarganya hidup foya2 dan bermewah2an... punya ribuan pengawal pribadi.... wilayah Daulah Islam yang luas membentang sampai ke eropa dikuasai orang2 penting dari keluarganya... disini kembali tradisi Jahiliyah dihidupkan, jarak antara kaya dan miskin kembali direnggangkan, antara bangsawan dan rakyat jelata jadi tampak perbedaannya, dia sulit ditemui rakyat biasa di istananya... bedanya, semuanya dibalut dengan jubah keislaman...
dan puncaknya, dia mengangkat putranya sebagai khalifah, meskipun tidak layak, Yazid bin Muawiyah... yang mengawali runtuhnya kekhalifaan khulafaur rasyidin yang mengagungkan kemanusiaan dan persamaan derajat...
Muawiyahlah yang menggagas konsep kekuasaan keluarga yang dibalut dengan jubah Islam.... dialah yang mendirikan kerajaan yang hanya membuat kaya keluarga sendiri... dialah yang merenggangkan jarak antara penguasa dan rakyat...
melihat kenyataan itu, sebagai cucu Rasulullah... apa kau kira Imam Husain As berdiam diri saja? penentangannya pada Yazid, adalah untuk mengembalikan gairah Islam yang tidak membedakan manusia dari kelas dan status sosialnya, melainkan dari ketakwaan dan keluhuran budi... perlawanannya adalah untuk mengembalikan konsep kekhalifaan untuk keadilan dan kesetaraan untuk semua rakyat, bukan hanya kesejahteraan untuk keluarga dan orang2 dekat khalifah...
dan ketika kesyahidan Imam Husain dalam memperjuangkan itu diperingati, ada yang melarang2...
apa alasannya kalau bukan menjaga konsep kekuasaan yang dilahirkan Muawiyah itu yang diterapkan kerajaan Arab Saudi sekarang? mengatasnamakan agama untuk kepentingan pribadi dan golongan.... menggunakan dalil2 agama untuk melegitimasi syahwat kekuasaan...
peringatan Asyura, tdk akan melahirkan pertikaian mazhab.... yang ada justru mempersatukan mazhab2 yang ada... untuk bersama2 menggalang kekuatan mengembalikan kekuasaan daulah Islam ditangan orang2 yang bertakwa dan adil... mengembalikan ruh kekhalifaan Khulafaur Rasyidin, yang dulu diperjuangkan Imam Husain, bahkan rela terbantai karena itu...
bisa dipahami?
Monday, October 24, 2016
Aku Bukan Muslim Cicak
Pesan Moral yang Sangat Mencengangkan untuk Umat Islam Pendukung Ahok: "Aku Bukan Muslim Cicak"
Berita Islam 24H - Tulisan ini sangat bagus, tidak diketahui siapa penulisnya. Bahasanya meruntuhkan stigmatisasi teologis yang keras. Pesan moral pada akhir tulisan sangat mencengangkan bagi umat Islam pendukung Ahok. Berikut kisah selengkapnya:
Sewaktu ditanya perihal video viral di medsos soal Pendeta Timotius Arifin Tedjasukmana (dengan kesaksian Ibu Yully) yang mengarahkan jemaatnya kaum kristiani untuk memilih Ahok sebagai Gubernur DKI pada Pilkada 2017 nanti (bahkan terus berlanjut sampai ke kursi RI 1 pada tahun 2019), saya bilang itu hal yang lumrah dan alami dan itu bukanlah masalah SARA. Itu artinya Pdt. Timotius dan Jemaatnya yang memilih Ahok pada saat Pilkada nanti adalah Pemeluk Kristiani yang taat dan baik.
Karena memilih Ahok yang seiman dengan mereka adalah hal yang bisa difahami baik secara psikologis apalagi secara agamis.
Kalau Made, Wayan, atau Nyoman memilih I Made Mangku Pastika sebagai Gubernur mereka itu menandakan bahwa mereka adalah pemeluk agama Hindu yang baik. Itu naluri alamiah dan bukan SARA .
Bagi Warga Indonesia yang tinggal di Inggris , pasti akan tetap menjagokan kesebelasan PSSI yang bertanding di Inggris melawan kesebelasan Nasional Inggris, meskipun sadar kemampuan kesebelasan Nasional kita jauh dibawah kemampuan kesebelasan Nasional Inggris. Itu karena sentimen kebangsaan. Meskipun PSSI kalah, mereka tetap dihormati. Itulah kekuatan fanatisme yg berlatar belakang pada rasa kebangsaan. Apalagi kalau sudah menyangkut masalah sepersaudaraan atau sekeyakinan, ikatan fanatisme itu pasti akan jauh lebih kuat lagi.
Karena itu tidak mengherankan bahwa survey menyebutkan tidak ada kaum kristiani atau Yahudi yang memilih pemimpin di luar agama yang mereka anut (ketika ada calon pemimpin Kristen yg ikut pemilihan). Memilih pemimpin yang seiman dengan mereka bukan hanya menyangkut masalah naluri dasar kejiwaan saja tetapi juga merupakan implementasi dari ajaran kristinani yang ganjarannya adalah pahala dari Tuhan. Karena dengan memilih pemimpin yang seiman, itu artinya ikut andil dalam menyalakan sinar Terang Tuhan Yesus di Bumi Nusantara ini. Karena itu Pdt Timotius Arifin dan Jemaatnya adalah Penganut Kristiani yang baik dan pintar.
Sekarang bagaimana dengan sikap Umat Islam di dalam memilih pemimpin ?.
Apakah kita ini pemeluk agama Islam yang baik ?
Apakah kita ini adalah umat yang pandai dan cerdas dalam merealisasikan ajaran agama kita ?.
Saya tidak ingin memakai referensi Surat Al Maidah ayat 51 di dalam menentukan pilihan pemimpin, karena ayat tersebut ternyata tiba-2 saja sudah masuk ke ranah khilafiyah. Saya lebih suka mengutip Surat Al Hujuroot 49 ayat 10 dan Hadits Rosulullãh SAW dalam panduan memilih pemimpin.
1. Allãh SWT berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ❤
"Sesungguhnya orang-2 mukmin itu bersaudara*, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan ber-taqwa-lah kepada Allãh agar kamu mendapat rahmat." (QS. 49 : 10)
2. Dalam permisalan yang indah, Rosulullãh SAW menggambarkan ikatan persaudaraan itu sebagai suatu bangunan yang kokoh seperti sabda beliau “Permisalan kaum mukminin dalam sikap saling mencintai, dan saling kasih sayang mereka sebagaimana satu badan. Apabila satu anggota badan sakit, seluruh anggota badan ikut merasakan, dengan tidak bisa tidur dan demam” (HR Muslim dari sahabat Nu’man bin Basyir).
Nampak dengan jelas bahwa sesungguhnya Allãh SWT telah mempersatukan kita dalam satu ikatan yang berlandaskan atas keimanan dan persaudaraan.
3. Telah memberitakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah memberitakan kepada kami Yunus bin Muhammad dari Jarir bin Hazim dari Nafi' dari Sa`ibah bekas budak Al Faqih bin Al Mughiroh, bahwa dia menemui ‘Aisyah r.ha dan melihat di dalam rumahnya ada panah yang tergantung, maka ia pun bertanya,
"Wahai Ummul Mukminin, apa yang kamu perbuat dengan benda ini ?"
‘Aisyah r.ha. menjawab,
"Untuk membunuh cicak, sebab Nabi SAW telah mengabarkan kepada kami bahwa ketika Ibrohim di lemparkan ke dalam kobaran api, tidak ada satupun dari bintang melata yang tidak berusaha mematikan api, kecuali cicak. Bahkan ia berusaha menghembuskan agar api itu tetap menyala, maka itu Rosulullah SAW memerintahkan kami untuk membunuhnya." (Sunan Ibnu Majah 3222)
PESAN MORAL :
Ketika Nabi Ibrahim a.s. dibakar dalam lautan api yang sangat besar atas perintah Raja Namrudz, secara spontan banyak binatang yang mencoba memadamkan api dengan air semampu yang mereka bisa. Salah satunya adalah burung pipit yang tanpa putus asa bolak-balik membawa air diparuhnya yang kecil. Ketika teman-temannya bertanya apa mungkin dia mampu memadamkan kobaran lautan api yang sangat besar hanya dengan beberapa tetes air dari paruhnya, maka burung pipit menjelaskan bahwa apa yang dilakukannya itu setidak-tidaknya menjelaskan di fihak siapakah sesungguhnya dia berada.
Cicak jelas berkiblat kepada kekuasaan yang dimiliki oleh Raja Namrudz, sedangkan burung pipit, semut dan binatang melata lainnya berkeyakinan pada kekuasaan Allãh. Meskipun nampaknya usaha mereka seperti sia-sia, tetapi akhirnya dengan nashrum_minallãh (pertolongan Allãh) maka padamlah api tadi dan Nabi Ibrahim a.s. memperoleh kejayaan dan kemuliaan.
Bagaimana nasib Raja Namrudz ?
Mati dengan cara mengenaskan.
Sementara nasib cicak si pembela kekuasaan Raja Namrudz ?
Menjadi binatang terkutuk seumur hidupnya.
Seperti halnya burung pipit, seperti juga semut, saya sesungguhnya bukan siapa-siapa bahkan bukan pula warga DKI dan tidak akan ikut terseret dalam hiruk pikuk Pilkada DKI nanti. Tetapi melalui tulisan ini, tolong saksikan di Padang Masyhar nanti, bahwa "saya bukanlah muslim cicak:.
Telah aku sampaikan Yaa Allah!
Pondok Gede,
12 Muharrom 1438 H
UAR
Tuesday, October 11, 2016
MENYIKAPI WAFATNYA SAYYIDINA HUSEIN DI HARI ASYURA
📚 AKIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH
🌹MENYIKAPI WAFATNYA SAYYIDINA HUSEIN DI HARI ASYURA🌹
قال الإمام ابن حجر الهيتمي:
Imam Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafii (w. 973 H) berkata:
اعْلَم أَن مَا أُصِيب بِهِ الْحُسَيْن رَضِي الله تَعَالَى عَنهُ فِي يَوْم عَاشُورَاء ... إِنَّمَا هُوَ الشَّهَادَة الدَّالَّة على مزِيد حظوته ورفعته ودرجته عِنْد الله وإلحاقه بدرجات أهل بَيته الطاهرين.
“Ketahuilah, apa yang dialami oleh Sayyidina Husein RA pada hari Asyuro (10 Muharram) adalah bentuk kesyahidan dirinya (mati di jalan Allah) yang menunjukkan tambahan pahalanya, kemuliaannya dan ketinggian derajatnya di sisi Allah, serta pencapaian dirinya dengan derajat-derajat para Ahlul Baitnya yang suci.
فَمن ذكر ذَلِك الْيَوْم مصابه لم يَنْبغ أَن يشْتَغل إِلَّا بالاسترجاع امتثالا لِلْأَمْر، وإحرازا لما رتبه تَعَالَى عَلَيْهِ بقوله {أُولَئِكَ عَلَيْهِم صلوَات من رَبهم وَرَحْمَة وَأُولَئِكَ هم المهتدون} (الْبَقَرَة:157).
Oleh karena itu, barang siapa yang mengingat hari itu karena musibah tersebut maka ia tidak akan lebih dari melakukan istirja’ (ungkapan zikir kepasrahan kepada Allah atas musibah, Penj.) sebagai bentuk dari pengamalan perintah Allah, dan untuk mendapatkan balasan yang Allah berikan dengan tindakan (istirja’) tersebut, yaitu melalui firman-Nya:
أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 157).
وَلَا يشْتَغل ذَلِك الْيَوْم إلا بذلك وَنَحْوه من عظائم الطَّاعَات كَالصَّوْمِ، وإياه ثمَّ إِيَّاه أَن يشْغلهُ ببدع الرافضة من النّدب والحزن والنياحة إِذْ لَيْسَ ذَلِك من أَخْلَاق الْمُؤمنِينَ وَإِلَّا لَكَانَ يَوْم وَفَاته صلى الله عَلَيْهِ وَسلم أولى بذلك وَأَحْرَى.
Ia tidak melakukan apa-apa pada hari itu selain perbuatan di atas, dan amalan lain semisalnya berupa ketaatan-ketaatan yang agung seperti berpuasa.
❗Awas dan hati-hatilah dari menyibukkan diri dengan perbuatan bid’ah kaum RAFIDHAH berupa berlebihan dalam memuji mayit, bersedih dan menangis dengan keras, karena itu semua bukan sifat kaum mukminin. Jika tidak maka hari kematian Rasulullah SAW lebih utama dari hari itu.
أَو ببدع الناصبة المتعصبين على أهل الْبَيْت أَو الْجُهَّال المقابلين الْفَاسِد بالفاسد والبدعة بالبدعة وَالشَّر بِالشَّرِّ من إِظْهَار غَايَة الْفَرح وَالسُّرُور.
❗Atau berhati-hatilah dari perbuatan bid’ah kaum NAWASIB yang benci terhadap Ahlul Bait, atau orang-orang bodoh yang membalas keburukan dengan keburukan, bid’ah dengan bid’ah dan kejahatan dengan kejahatan, berupa menampakkan rasa gembira dan bahagia yang sangat.”
الصواعق المحرقة على أهل الرفض والضلال والزندقة (2/ 533)
(Sumber: kitab Ash-Shawâiq al-Muhriqah ‘Alâ Ahlir Rafdh Wadh Dhalâl Waz Zandaqah, vol. II, hlm. 533)
✏Oleh: Ustadz Ahmad Ghozali Assegaf hafizhahullah.
Friday, October 7, 2016
Membedah Sisi Linguistik Kalimat Ahok
Copast dari group WA
*Membedah Sisi Linguistik Kalimat Pak Basuki*
Sebenarnya saya sudah malas untuk membahas hal ini. Namun nurani saya terusik saat pembela Pak Basuki berdalih tidak ada yang salah dengan kalimat Pak Basuki. Salah satu yang membuat saya heran adalah pernyataan Pak Nusron Wahid yang notabenya adalah tokoh NU.
Baik, dalam tulisan ini saya tidak akan berpolemik masalah agamanya (jelas saya bukan ahlinya). Tulisan ini akan lebih difokuskan untuk membedah sisi linguistik, sisi kaidah bahasa yang beliau gunakan.
Ini adalah potongan kalimat beliau :
*“Dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macam-macam..”*
Sengaja saya fokuskan pada kalimat yang menimbulkan polemik ini. Saya sudah melihat keseluruhan video, dan memang masalahnya ada pada frasa ini.
*Terjemahan versi sebagian besar orang* : Pak Basuki menistakan surat Al Maidah. Al Maidah 51 dibilang bohong oleh Pak Basuki.
*Terjemahan versi pembela Pak Basuki* : Pak Basuki tidak menistakan Al Maidah 51. Dia menyoroti orang yang membawa surat Al Maidah 51 untuk berbohong.
Mari kita bedah dengan kepala dingin. Jika kita ubah kalimat di atas dengan struktur yang lengkap maka akan menjadi seperti ini :
“Anda dibohongin orang pakai surat Al Maidah 51” – Ini adalah kalimat pasif.
Anda : Objek
Dibohongin : Predikat
Orang : Subjek
Pakai surat Al Maidah 51 : Keterangan Alat
Dengan struktur kalimat seperti ini, jelas yang disasar dalam kalimat Pak Basuki adalah SUBYEK nya. Yaitu “orang ” . Dalam hal ini orang yang menggunakan surat Al Maidah 51.
Karena Surat Al Maidah 51 di sini hanya sebagai keterangan alat yang sifatnya NETRAL. Saya analogikan dengan struktur kalimat yang sama seperti ini :
“Anda dipukul orang pakai penggaris.”
Struktur kalimat di atas sama, yaitu : OPSK . Jenis kalimat pasif. Subyek ada pada orang. Sedangkan penggaris merupakan keterangan alat yang bersifat netral.
Di sini menariknya.
Penggaris memang bersifat netral. Bisa dipakai menggaris, memukul dan yang lainnya tergantung predikatnya. Yang menentukan apakah si penggaris ini fungsinya menjadi positif atau negatif adalah predikatnya.
Nah masalahnya adalah apakah Surat Al Maidah 51 bisa digunakan sebagai alat untuk berbohong?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bohong/bo·hong/ berarti tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya; dusta:
Dan inilah arti dari surat Al Maidah 51 tersebut : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
Makna dari surat Al Maidah 51 tersebut sudah sangat jelas. Bukan kalimat bersayap yang bisa dimultitafsirkan. Tanpa dibacakan oleh orang lain, seseorang yang membaca langsung Surat Al Maidah 51 pun mampu memahami artinya.
*Kesimpulan saya, dengan makna sejelas ini surat Al Maidah 51 TIDAK BISA DIJADIKAN ALAT UNTUK BERBOHONG. Jadi ketika Pak Basuki berkata dengan kalimat seperti itu, sudah pasti dia menyakiti umat islam karena menempatkan Al Maidah 51 sebagai “keterangan alat” yang didahului oleh predikat bohong. Menempelkan sesuatu yang suci dengan sebuah kata negatif, itulah kesalahannya.*
Sebuah logika yang sama dengan kasus seperti ini :
Seseorang Ustadz menghimbau jamaahnya : "Jangan makan babi, Allah mengharamkannya dalam Surat Al Maidah ayat 3".
Pedagang babi lalu komplain. "Anda jangan mau dibohongi Ustadz pake Surat Al Maidah Ayat 3".
atau
Seseorang Ustadz menghimbau jamaahnya, " Al Quran mengharamkan khamr dan judi dalam Surat Al Maidah ayat 90".
Bandar judi dan produsen vodka pun protes, "Anda jangan mau dibohongi Ustadz pakai Surat Al Maidah Ayat 90. "
Jika Anda sudah membaca arti Surat Al Maidah Ayat 3 dan 90 , mana yang akan Anda percaya? Ustadz yang memberitahu Anda atau Pedagang Babi, Khamr, dan Bandar Judinya ?
Itu pilihan Anda. Namun sebagai orang yang mengaku muslim, jika Al Qur’an dan As Sunnah tidak menjadi pegangan utama kita, apakah kita masih layak menyebut diri kita muslim?
Pak Basuki yang terhormat, selama tinggal di Jakarta saya mengalami dua periode gubernur. Pak Fauzi Bowo dan Pak Basuki. Secara kinerja, saya angkat topi terhadap Anda yang sudah membuat banyak perubahan di kota tercinta kami ini.
Katakanlah kinerja Pak Basuki ibarat makanan yang sangat enak (walaupun tentu saja ini debatable) , bungkus makanan ini sangat kotor. Saya ambil analogi makanan kesukaan saya adalah Mie Ayam. Saya akan menolak memakan mie ayam itu jika dibungkus memakai kulit babi yang busuk. Namun saya akan memakan mie ayam tersebut jika dibungkus dengan wadah yang bersih dan halal.
Jika ada dua pilihan untuk masyarakat Jakarta :
1. Makanan enak namun bungkusnya kotor dan haram
2. Makanan enak dan bungkusnya bersih dan halal
Maka saya yakin masayakat Jakarta ini akan memilih yang kedua. Bagaimana dengan Anda?
Wednesday, September 28, 2016
Permainan Takdir
*Permainan Taqdir*
Oleh: Anis Matta
Fir'aun mungkin tidak pernah membayangkan bahwa kotak kecil berisi bayi Musa yang mengapung di sungai dan merapat ke istananya adalah sebuah surat. Itu pesan bahwa ketika ia menginstruksi pembunuhan bayi laki-laki, tanpa sadar ia sedang bermain dengan takdirnya sendiri. Permainan baru saja dimulai!
Seharusnya Fir'aun sadar bahwa isi kotak ini mutlak masuk dalam daftar bayi yang harus dibantai. Dia tidak boleh membuat pengecualian. Tapi Fir'aun membuat pengecualian. Bayi ini dikeluarkan dari daftar target pembunuhan. Dan itulah awal dari semua bencana yang menimpanya kelak.
Pengecualian itu dibuat dengan logika yang sangat lugu dan naif. Istrinyalah yang memberi ide, bayi itu mungkin bermanfaat atau diangkat sebagai anak. Kaum megaloman seperti Fir'aun biasanya menunjukkan kuasa dengan menebar kasih. Maka ia mengabulkan permintaan istrinya, toh semua masih dalam kendali.
Dari celah jiwa itulah Allah memberlakukan kehendakNya. Sang Rasul tumbuh besar dalam istana, dengan fasilitas istana. Perlindungan yang sempurna. Dari waktu ke waktu bayi itu menunjukkan gelagat berbahaya, tapi kasih sayang mengubah sikapnya. Ia melakukan "pembiaran", semua dalam kendali.
Begitulah Allah mempermainkan Fir'aun. Dimulai dengan mimpi yang menganggu pikirannya dan melahirkan kecemasan luar biasa, lalu bayi mungil itu. Sebuah dinasti raksasa diruntuhkan dengan cara yang sangat sederhana. Dari ide-ide kecil yang diselipkan Allah dalam benak Fir'aun. Itulah permainannya.
Permainan kecil itu hanya ingin menyampaikan pesan sejarah bahwa kendali bukanlah di tangan manusia, termasuk atas pikiran-pikirannya sendiri. Para konspirator selalu ditipu oleh dendam dan megalomania, diyakinkan oleh kedigdayaannya bahwa semua kendali ada di tangan mereka. TIDAK nyatanya!
Sumber optimisme kita dari situ, dari fakta bahwa kendali tidaklah di tangan manusia, kendali tetap di tangan Allah. Dia yg mengendalikan game ini!
Yang harus kita jaga agar takdir baik berpihak pada kita adalah konsistensi pada kebenaran. Walaupun kita akan tampak lugu dan naif. Ini permainannya!
Allah yang mengontrol seluruh permainan ini karena Dia sendiri yang mengendalikan alam raya ini, termasuk ilmu tentang masa depan. Jadi jangann terlalu khawatir!
Semua ilmu manusia tentang masa depan hanya sampai pada zhan (dugaan). Mereka bisa membaca tren, tapi tidak mengendalikannya. Itu seperti meramal cuaca, bisa diduga-duga tapi tidak bisa dikendalikan. Jadi jangan percaya pada propaganda bahwa ada kekuatan yang tak terkalahkan di dunia ini!
Uni Soviet tidak pernah membayangkan bahwa invasi ke Afghanistan akan berbalik jadi kubur bagi dirinya sendiri. Dikubur oleh badui2 Afghanistan!
Pesannya adalah Allah tidak tidur. Ia punya tipu dayaNya sendiri.
Para konspirator itu juga tidak menyadari bahwa mereka menghancurkan diri mereka sendiri.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
و مكروا و مكر الله و الله خير الماكرين

