Wednesday, December 28, 2016

LISANUL HAL

Pepatah Arab mengatakan, “Lisaanul haal ablaghu min lisaanil maqaal”, artinya bahasa tubuh (perbuatan) lebih mengena daripada bahasa lidah (ucapan).

Maksudnya, ketika bahasa tubuh kita mampu menerjemahkan keindahan akhlak Islam, kita tidak perlu lagi kata-kata untuk menjelaskannya. Penjelasan bahasa tubuh kita itu sudah cukup mewakili penjelasan lidah.

Sebaliknya, ketika bahasa tubuh kita menerjemahkan akhlak yang buruk, maka sebanyak apapun kata-kata indah yang kita ucapkan tidak akan mampu meyakinkan orang lain, apalagi mengubahnya.

Ini penting dipahami oleh setiap pendidik, baik orangtua maupun guru. Yang paling mereka perlukan sebenarnya adalah keteladanan, bukan sekadar kepandaian berbicara. Anak-anak selalu memperhatikan bahasa tubuh (baca: perilaku) kita. Bukan hanya itu, mereka juga akan menirunya secara total, seperti fotokopi. Kalau kita menampakkan perilaku baik, anak-anak akan menirunya sehingga menjadi baik, begitu juga sebaliknya.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memperhatikan bahasa tubuh kita, khususnya di depan mereka. Kalau belum mampu mewujudkannya secara spontan, minimal kita bisa melatihnya secara perlahan-lahan. Contohnya, kalau tabiat kita suka marah, maka kita perlu berlatih untuk menahan emosi ketika marah dan jangan meluapkannya di hadapan anak-anak karena mereka akan menyerap pelajaran tentang marah itu secara cepat. Begitu juga pelajaran-pelajaran lain seperti sabar, jujur, tanggung jawab dan sebagainya. Semuanya perlu contoh dan keteladanan, bukan sekadar ucapan atau perintah.

Ini juga penting dipahami oleh para dai, yaitu penyeru kepada Islam. Sebab, objek dakwah selalu melihat kepribadian dainya. Kalau kepribadiannya baik, maka objek dakwah akan dengan mudah menerima ajakannya, bahkan tidak jarang timbul simpati sebelum ajakan itu dimulai. Padahal setiap muslim adalah dai, yaitu penyeru kepada kebaikan. Oleh karena itu, setiap muslim harus mulai menata akhlaknya supaya pancaran aura akhlaknya mampu menembus hati setiap orang yang melihatnya.
Sejarah telah membuktikan bahwa akhlak para dai terdahulu mampu mengalirkan hidayah ke dalam hati para muallaf sehingga mereka jatuh cinta dengan Islam.

Akhlak merupakan puncak keindahan ajaran Islam. Bahkan pujian Allah kepada Rasulullah adalah didasarkan pada akhlaknya: “Sungguh engkau (wahai Muhammad) berada pada akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Sepanjang sejarah, para ulama telah mencurahkan jerih payah mereka untuk menjelaskan masalah akhlak ini kepada umat supaya menjadi panduan praktis dalam kehidupan sehari-hari.

Tanpa disadari, banyak non-muslim yang tertarik memeluk Islam karena membaca keindahan Islam itu dalam kitab-kitab ulama. Tapi sayangnya, banyak juga orang yang membenci Islam karena keindahan Islam itu tertutupi oleh akhlak buruk para pemeluknya.

Jadi, kita sudah paham betapa pentingnya menjaga akhlak kita agar selalu selaras dengan tuntunan Islam. Semoga Allah memudahkan kita untuk menjadi orang-orang yang berakhlak mulia. Aamiin.



Oleh: Abul Faruq Danang Kuncoro W (semoga Allah memaafkannya)
penc

Sunday, December 25, 2016

Membaca Al Quran tidak akan mengurangi waktumu

Membaca Al Quran tidak akan mengurangi waktumu. Justru sebaliknya, ia akan menambah waktumu*

Secara hitungan matematika dunia, membaca Al Quran tampak seakan-akan mengurangi waktu. Dari total 24 jam dalam sehari, seolah-olah berkurang sekian detik, sekian menit atau sekian jam jika digunakan untuk membaca Al Quran.

Tapi, tahukah anda bahwa waktu yang anda gunakan untuk membaca Al Quran itu sebenarnya tidak hilang begitu saja. Ia akan diganti oleh Allah dengan keberkahan yang berlipat ganda.

Apa itu keberkahan?

Keberkahan artinya pertambahan dan pertumbuhan. Wujudnya bisa bermacam-macam. Misalnya, pekerjaan beres, produktivitas meningkat, keuntungan bertambah, kesehatan terjaga dan seterusnya.

Itu adalah wujud keberkahan yang akan diperoleh oleh orang yang membaca Al Quran.

Pernahkah anda mendengar tentang orang yang stress? Atau orang yang sedang kebingungan mencari inspirasi? Atau orang yang kesulitan menyelesaikan pekerjaannya? Atau orang yang waktunya habis sia-sia tanpa produktivitas?

Itu adalah bentuk-bentuk kehilangan umur yang disebabkan tidak berkahnya waktu.

Tahukah anda bahwa dahulu para ulama bisa menulis karya-karya agung yang jumlahnya melebihi bilangan umur mereka? Padahal saat itu belum ada mesin ketik, apalagi komputer. Semuanya ditulis manual dengan tangan dan peralatan yang sangat sederhana, ditambah kondisi yang lebih sulit daripada kondisi sekarang.

Mengapa mereka bisa? Jawabnya karena waktu mereka penuh berkah.

Dari mana keberkahan itu? Jawabnya dari membaca Al Quran.

"Perbanyaklah membaca Al Quran. Jangan anda tinggalkan. Karena kemudahan yang akan anda peroleh akan berbanding lurus dengan kadar yang anda baca.

*Jangan membaca Al Quran di waktu luangmu, tapi luangkanlah waktumu untuk membaca Al Quran*.apalagi kalau dibarengi dg memahami arti n mengamalkan👍

Sebagaimana Engkau Menjalani Hidupmu Demikianlah Kondisimu Tatkala Ajal Menjemputmu

📗 *Sebagaimana Engkau Menjalani Hidupmu Demikianlah Kondisimu Tatkala Ajal Menjemputmu*…..!!!"

👤 *Ustadz DR. Firanda Andirja, MA*

Nabi shallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

"Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya" (HR Muslim no 2878)

Berkata Al-Munaawi, أَيْ يَمُوْتُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ وَيُبْعَثُ عَلَى ذَلِكَ "Yaitu ia meninggal di atas kehidupan yang biasa ia jalani dan ia dibangkitkan di atas hal itu" (At-Taisiir bi Syarh Al-Jaami' As-Shogiir 2/859)

** Para pembaca yang budiman… kita semua tahu bahwasanya kematian datang tiba-tiba…tidak peduli dengan kondisi seorang hamba apakah dalam keadaan ketaatan kepada Allah atau dalam keadaan sedang bermaksiat…, apakah dalam keadaan sakit ataupun dalam keadaan sehat… semuanya terjadi tiba-tiba…

Seorang penyair berkata :
تَزَوَّدْ مِنَ التَّقْوَى فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي***  إِذَا جَنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ

** Berbekallah ketakwaan karena sesungguhnya engkau tidak tahu…
Jika malam telah tiba apakah engkau masih bisa hidup hingga pagi hari

وَكَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ *** وَكَمْ مِنْ عَلِيْلٍ عَاشَ حِيْناً مِنَ الدَّهْرِ

** Betapa banyak orang yang sehat kemudian meninggal tanpa didahului sakit…
Dan betapa banyak orang yang sakit yang masih bisa hidup beberapa lama

فَكَمْ مِنْ فَتًى أَمْسَى وَأَصْبَحَ ضَاحِكًا *** وَقَدْ نُسِجَتْ أَكْفَانُهُ وَهُوَ لاَ يَدْرِِي

** Betapa banyak pemuda yang tertawa di pagi dan petang hari
Padahal kafan mereka sedang ditenun dalam keadaan mereka tidak sadar

وَكَمْ مِنْ صِغَارٍ يُرْتَجَى طُوْلُ عُمْرِهِمْ *** وَقَدْ أُدْخِلَتْ أَجْسَامُهُمْ ظُلْمَةَ الْقَبْرِ

** Betapa banyak anak-anak yang diharapkan panjang umur…
Padahal tubuh mereka telah dimasukkan dalam kegelapan kuburan

وَكَمْ مِنْ عَرُوْسٍ زَيَّنُوْهَا لِزَوْجِهَا *** وَقَدْ قُبِضَتْ أَرْوَاحُهُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ

** Betapa banyak mempelai wanita yang dirias untuk dipersembahkan kepada mempelai lelaki…
Padahal ruh mereka telah dicabut tatkala di malam lailatul qodar

** Tentunya setiap kita berharap dianugrahi husnul khotimah… ajal menjemput tatkala kita sedang beribadah kepada Allah… tatkala bertaubat kepada Allah…sedang ingat kepada Allah… , akan tetapi betapa banyak orang yang berharap meninggal dalam kondisi husnul khotimah akan tetapi kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya…. Suul khootimah… maut menjemputnya tatkala ia sedang bermaksiat kepada Penciptanya dan Pencipta alam semesta ini…

** Bagaimana mungkin seseorang meninggal dalam kondisi husnul Khotimah sementara hari-harinya ia penuhi dengan bermaksiat kepada Allah… hari-harinya ia penuhi tanpa menjaga pendengarannya… pandangannya ia umbar… hatinya dipenuhi dengan beragam penyakit hati… lisannya jauh dari berdzikir dan mengingat Allah…

❗~¤ Ingatlah para pembaca yang budiman… sesungguhnya seseorang akan dicabut nyawanya berdasarkan kehidupan yang biasa ia jalankan…

** Berikut ini adalah kisah-kisah yang mencoba menggugah hati kita untuk membiasakan diri beramal sholeh sehingga tatkala maut menjemput kitapun dalam keadaan beramal sholeh :

*Kisah Aamir bin Abdillah Az-Zubair*
Mush'ab bin Abdillah bercerita tentang 'Aamir bin Abdillah bin Zubair yang dalam keadaan sakit parah : 
'Aaamir bin Abdillah mendengar muadzin mengumandangkan adzan untuk shalat maghrib, padahal ia dalam kondisi sakaratul maut pada nafas-nafas terakhir, maka iapun berkata, “Pegang tanganku ke mesjid…!!” merekapun berkata, "Engkau dalam kondisi sakit !" , Diapun berkata,”Aku mendengar muadzin mengumandangkan adzan sedangkan aku tidak menjawab (panggilan)nya? Pegang tanganku…! Maka merekapun memapahnya lalu iapun sholat maghrib bersama Imam berjama'ah, diapun shalat satu rakaat kemudian meninggal dunia. (Lihat Taariikh Al-Islaam 8/142)

Inilah kondisi seorang alim yang senantiasa mengisi kehidupannya dengan beribadah sesegera mungkin… bahkan dalam kondisi sekarat tetap ingin segera bisa sholat berjama'ah…. Bandingkanlah dengan kondisi sebagian kita… yang tatkala dikumadangkan adzan maka hatinya berbisik : "Iqomat masih lama…., entar lagi aja baru ke mesjid…, biasanya juga imamnya telat ko'…, selesaikan dulu pekerjaanmu.. tanggung…", dan bisikan-bisikan yang lain yang merupakan tiupan yang dihembuskan oleh Iblis dalam hatinya.

Saudaraku yang mulia…!!

❗✍🏼~Allah Yang Maha Mulia telah memberlakukan sunnatullahNya bahwasanya: “Orang yang hidup di atas sesuatu pola/model kehidupan maka ia pun akan mati di atas model tersebut, dan kelak ia akan dibangkitkan di atas model tersebut”

❗✍🏼~Siapkanlah dirimu menyambut tamu yang akan mendatangimu secara tiba-tiba…yaitu kematian, jangan sampai tamu tersebut     dalam kondisi engkau sedang bermaksiat kepada Robmu.

# Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengamalkan ilmunya.

Aamiin Allahumma Aamiin....

══════ ❁✿❁ ══════

Orang yang Sulit Diterima

HAL YANG BIKIN SESEORANG 🚻 SULIT 'DITERIMA' ORANG DI SEKITARNYA
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Menemukannya atau tidak, di sekeliling kita ada tipikal WANITA 🚺 yang dimanapun dia ada, biasanya wanita lain tidak tahan berteman (atau sekedar duduk) lama dengannya.

Mendapatinya atau tidak, ada tipikal pria 🚹 yang kata orang, dunia terasa lebih nyaman tanpanya.

Di kantor, orang terkoneksi dengannya karena tuntutan pekerjaan yang memaksa. Di luar itu, lebih menjaga hati kalau tidak banyak bicara dengannya. Kalaupun harus bicara, baiknya seperlunya saja.
Di sekolah/kampus, tugas tim bukan jadi ringan tapi justru bertambah berat jika sekelompok dengannya, karena harus banyak sabar dengan kata-katanya.

Intinya:
1⃣ Orang merasa baiknya dia tak ada.
2⃣ Dia ganti komunitas pun, orang tetap berkata yang sama.

Yang miris, tipikal seperti ini pun kerap ditemukan di kalangan orang-orang yang sudah belajar agama. Belajar agamanya tidak salah. Tapi mungkin ilmu yang ditimba belum meresap ke dalam relung jiwa.
Semoga Allah menunjukkan hidayah kepada penulis dan kita semua seandainya kita pun demikian adanya.

Penulis ungkap masalah ini bukan berarti tak ada yang tidak senang dengan penulis, karena penulis sadar akan makna perkataan Imam Asy-Syafi'i:
رضا الناس غاية لا تدرك
"Menggapai ridha seluruh manusia ada misi yang tidak akan pernah tercapai."
Belum lagi makna perkataan para ulama yang lain:
"Orang yang ingin membuat semua orang senang padanya termasuk orang yang tamak pada dunia."

Di antara hal yang membuat seorang wanita dan pria jadi sulit 'diterima' dimana-mana:
🚺 PADA WANITA:
Bicara yang tajam, merendahkan orang lain & seringkali menyinggung perasaan, dan sudah jadi kebiasaan bahkan TRADEMARK.
Misalnya:
-Dengan nada sindiran menghina: Maaf ya, dari teman SMA seangkatan, kamu saja yang belum punya anak.
-Merendahkan akhwat lain: Ukhti ini tampangnya seperti pembantu loh. Ke rumah ana yuk, banyak setrikaan.
-Afwan ya Ukht, calon suamiku lebih kaya dari calon suamimu.

🚹 PADA PRIA:
Bicara yang mencitrakan tinggi hati, merendahkan orang lain, anti-kritik, seolah paling hebat & paling pintar, tidak mau kalah dalam diskusi/debat, bahkan jadi TRADEMARK.
Misalnya:
-Kalau tidak ada saya, organisasi ini tidak akan jalan.
-Kalau bukan karena saya, kalian tidak akan mampu.
-Jangan ceramahi saya. Saya lebih lama belajar darimu.
-Jangan membantah. Saya paling tidak suka dibantah.

PENUTUP
Jangan bayangkan wajah siapa-siapa saat Anda membaca contoh saya.
Mari kita bercermin diri, karena mengukur baju memang harus di badan sendiri.

Monday, December 19, 2016

Sirah - Asal Usul Nenek Moyang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam #2


بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 إنَّ الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ونتوب إليه، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه لا نبي بعده

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Ikhwani fillāh, sebelum kita menjelaskan tentang nasab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, kita sampaikan tentang sejarah Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām secara singkat bagaimana Nabi Ismā'īl 'alayhissalām sampai ke Mekkah.

Kita tahu bahwasanya Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām dilahirkan di negeri 'Irāq. Tumbuh di atas tauhid, lalu mendakwahi kaumnya. Tatkala itu kaumnya menyembah berhala, diantaranya juga ayahnya.

Ayahnya pun marah dan berkata:

 لَئِن لَّمْ تَنتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ

"Aku akan merajammu."

(QS Maryam: 46)

Diusir dan diancam oleh ayahnya, dimusuhi oleh kaumnya dan akhirnya Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām keluar dari kaum tersebut, sementara kaumnya dalam keadaan musyrik.

Kemudian berjalanlah Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām ke negeri Syam. Disana beliau menikah dengan seorang wanita yang cantik jelita, namanya Sārah.

Di sana juga ternyata orang-orangnya kafir penyembah bintang, benda-benda langit. Nabi Ibrāhim juga mendakwahi mereka.

Oleh karenanya Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām dikenal dengan "Bapak Tauhid" karena beliau yang mendakwahkan tauhid. Dan menemukan 2 model kesyirikan pada masanya, yaitu para penyembah berhala dan penyembah benda-benda langit.

Kemudian setelah menikah bertahun-tahun dengan Sārah tapi belum memiliki anak. Akhirnya suatu hari Sārah pun berjalan bersama Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām melewati negeri Mesir, seperti dalam Shahih Bukhari dan yang lainnya.

Di negeri Mesir terkenal dengan seorang raja yang mata keranjang yang memiliki intel-intel (petugas khusus) untuk melirik wanita yang cantik. Kalau ada wanita yang cantik maka harus menjadi miliknya.

Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām mengerti berita ini sehingga tatkala mereka melewati negeri Mesir, Ibrāhīm 'alayhissalām berkata kepada istrinya:

"Kalau mereka bertanya kepadamu, kau katakan bahwa aku adalah saudaramu karena aku tidak tahu di atas muka bumi ini yang Islam kecuali saya dan kamu, wahai istriku."

Artinya di negeri Mesir tidak ada yang Islam kecuali mereka berdua. Nabi Lūth (sepupunya Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām) juga seorang Nabi tapi di negeri yang lain.

Akhirnya benar, tatkala melewati, maka terlihatlah oleh para pengikut raja dan mereka mengatakan:

"Wahai Raja, ada seorang wanita yang tidak boleh selain untukmu."

Maka diambillah Sārah dan ditanyakan kepadanya siapakah Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām.

Kalau Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām mengatakan, "Saya adalah suaminya," maka dia akan dibunuh. Tetapi kalau mengatakan, "Saya adalah saudaranya (kakak/adiknya)," maka tidak dibunuh.

Maka akhirnya Sārah diambil Sang Raja dan dimasukkan ke dalam kamarnya. Tatkala Sang Raja ingin menggauli, Sārah berdo'a dan Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām shalat dan berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Tiba-tiba kedua tangan Sang Raja terikat tidak bisa bergerak dan berkata:

"Wahai Sārah, berdo'alah kepada Tuhanmu agar membukakan ikatan kedua tanganku dan aku tidak akan mengganggumu."

Maka Sārah berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, maka kedua tangan Raja tersebut terbuka, tatkala terbuka dari belenggunya, diapun tidak kuasa melihat kecantikan Sārah, dia maju lagi untuk menggauli Sārah.

Maka ketika mendekati Sārah, tangannya terikat kembali dan lebih parah dari sebelumnya. Sehingga dia berkata lagi:

"Wahai Sārah, sudah saya tidak akan mengganggu kamu lagi, do'akan kepada Allāh supaya terbuka tanganku ini."

Maka Sārah berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, lalu kedua tangan Raja terbuka, begitu terbuka dia tak kuasa lagi saking cantiknya Sārah, maka dia maju lagi untuk mendekati Sārah untuk ketiga kalinya.

Maka tiba-tiba tangannya terbelenggu lebih kuat daripada dua kali sebelumnya. Maka dia mengatakan:

"Sudah, saya taubat dan ini terakhir, berdo'alah agar terbuka kedua tanganku."

Maka Sārah berdo'a dan terbukalah kedua tangan Raja dan dia mengatakan kepada anak buahnya:

"Kalian tidak mendatangkan kepadaku seorang wanita tetapi kalian telah mendatangkan kepadaku seorang syaithan."

Akhirnya karena Raja ini menghargai Sārah, diapun memberikan kepada Sārah seorang wanita yang namanya Hajar, dijadikan pembantu Sārah.

Maka berjalanlah Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām bersama istrinya dari negeri tersebut bersama seorang penghuni keluarga baru yaitu Hajar, pembantu mereka berdua, menjalani kehidupan.

Namun, bertahun-tahun berikutnya ternyata Sārah tidak juga mengandung, sampai Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām dan Sārrah sudah mulai tua. Sārah kasihan melihat suaminya. Suaminya harus memiliki keturunan, maka menikahlah Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām dengan pembantunya, Hajar. Jadi yang menawarkan kepada suaminya adalah istrinya.

Maka Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām menikah dengan Hajar dan akhirnya Hajar mengandung, yaitu Ismā'īl 'alayhissalām.

Tatkala itu Sārah cemburu kepada Hajar, maka diapun benci kepada Hajar dan akhirnya Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām mengantarkan Hajar ke Mekkah untuk berhijrah, membawa putrannya, Ismā'īl 'alayhissalām dalam rangka untuk menjauhkan supaya tidak cekcok terus antara Sārah dengan Hajar.

Demikianlah tabi'at wanita, akan tetapi Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām tidak mencaci maki Sārrah, karena kecemburuan itu wajar, kecemburuan itu mustahil bisa dihilangkan. Kecemburuan itu ada manfaatnya dan ada juga kekurangannya.

Diantara manfaatnya, seorang istri akan sangat sayang kepada suami jika ada rasa cemburu, lebih perhatian. Jika tidak ada rasa cemburu maka istri akan cuek saja. Namun cemburu ini tidak dijadikan bahan celaan oleh Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām dan membawa pergi Hajar ke Mekkah.

Dan kisahnya panjang dalam Shahih Bukhari.

Intinya, Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām meletakkan Hajar dan Ismā'īl 'alayhissalām ke Mekkah kemudian pergi.

Kemudian tatkala Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām melangkahkan kakinya, tidak berbalik, maka Hajar mengejar suaminya dan mengatakan:

"Wahai Ibrāhīm, apakah engkau meninggalkan aku dan putramu ditempat yang tidak ada sesuatupun?"

Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām tidak menoleh, dan jalan terus.

Lalu Hajar mengejar dan berkata:

"Wahai Ibrāhīm, apakah engkau meninggalkan aku ditempat yang tandus tidak ada apa-apa?"

Tetapi Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām jalan terus. Yang ketiga kalinya dipanggil lagi tidak balik.

Maka Hajar berkata:

"Apakah Allāh yang telah memerintahkan engkau dengan hal ini?"

Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām menjawab:

"Ya, Allāh yang perintahkan."

Maka kata Hajar:

"Kalau begitu Allāh tidak akan meninggalkan/menyia-nyiakan kami."

Maka Ibrāhīm 'alayhissalām pun berkata setelah berjalan agak jauh, dia mengangkat tangan dan berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dengan do'anya:

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

"Ya Allāh, aku meletakkan anakku/keluargaku ditempat ini yang tandus tidak ada tanaman di dekat rumahmu (Baitullāh) yang dihormati. ya Allāh, demikian itu untuk menegakkan shalat, maka jadikanlan hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."

(QS Ibrāhīm 37)

Anak dan istrinya sangat dicintainya, tetapi dia tidak ingin berdo'a dan diketahui mereka, maka Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām menjauh dan berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Akhirnya benar, Allāh menjaga Hajar dan sebagaimana kita ketahui ceritanya dalam Shahih Bukhari dan yang lainnya.

Ibrāhīm 'alayhissalām hanya memberikan bekal sekantung kurma dan sekantung air.

Maka di awal-awal hari masih cukup, tapi tatkala bekal sudah habis dan air susu tidak keluar lalu apa yang disusukan kepada Ismā'īl 'alayhissalām?

Kita cukupkan disini saja, in syā Allāh besok kita lanjutkan lagi.

وبالله التوفيق والهداية
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
__________

Sirah - Asal Usul Nenek Moyang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam #1









بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 إنَّ الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ونتوب إليه، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه لا نبي بعده

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Ikhwani fillah, kita mulai mempelajari sirah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan menjelaskan bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam diutus oleh Allāh di jazirah Arab.

Para ulama menjelaskan (sekedar mencari hikmah) kenapa Allāh Subhānahu wa Ta'āla menurunkan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam di jazirah Arab.

Sebagian orang yang mungkin tidak suka dengan Arab mengatakan bahwa karena dulu Arab sangat biadab. Memang benar banyak kebiadaban tatkala itu.

Tapi jangan lupa, meskipun dalam sisi jahiliyyah, memang mereka dahulu: makan bangkai, berzina, penuh dengan kerusakan, menyembah patung, berbuat kesyirikan, ada yang menyiksa budak mereka,  tetapi mereka juga memiliki sifat-sifat yang mulia, contohnya kejujuran.

Pada zaman dahulu, bangsa Arab terkenal dengan:
• kejujuran
• memuliakan tamu

Para ulama menyebutkan tentang jazirah Arab, bahwa banyak sisi positif kenapa nabi terakhir Allāh pilihkan ke jazirah Arab.

Sebelumnya, kebanyakan nabi-nabi di negeri Syam, namun khusus nabi penutup, Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam, Allāh utus di jazirah arab karena:

⑴ Bahwasanya jazirah Arab adalah jazirah yang gersang, berisi bebatuan dan padang pasir.

Dan العرب (al-'arab) dalam bahasa Arab kembali kepada makna padang pasir bebatuan, tanah tandus, tidak ada tumbuhan.

Sehingga meskipun jazirah Arab diliputi oleh negara adidaya tatkala itu seperti Persia dan Romawi namun mereka tidak punya kekuatan untuk masuk ke jazirah Arab dan tidak ada keuntungannya juga mereka menjajahi daerah padang pasir. Tidak akan mendapatkan apa-apa.

⑵ Untuk menguasai jazirah Arab adalah berat, karena melewati padang pasir beribu-ribu kilometer.

Mereka tidak terbiasa dengan medan yang berat seperti itu, tandus tanpa ada air dan tumbuh-tumbuhan.

Oleh karenanya orang-orang Arab bebas tatkala itu, tidak ada pihak luar. Padahal ada Persia dan Romawi yang begitu kuat namun tidak mampu menguasai jazirah Arab. Padahal mereka menguasai negara-negara yang lain.

⑶ Tatkala itu tidak ada agama yang satu, agama mereka tercerai berai. Ada yang menyembah malaikat, patung, nabi, benda-benda langit sehingga tidak ada kesatuan aqidah.

Jika ada kesatuan aqidah maka sulit untuk ditembus (didakwahi). Kalau orang yang sudah punya keyakinan    dan bersatu karena aqidah, akan sulit ditembus.

Kemudian kalaupun mereka menyembah patung, patungpun bermacam-macam, tidak ada satu kesatuan patung
Tiap-tiap suku memiliki patung masing-masing yang mereka bangga dan ibadah kepadanya.

Maka mudah bagi seorang Rasūl untuk mendakwahi. Berbeda jika mereka bersatu padu dalam satu keyakinan, ini berat.

⑷ Jazirah Arab yang begitu luas ternyata bahasa mereka satu.

Ini sangat penting. Dari negeri Yaman sampai Mekkah bahasanya satu yaitu bahasa Arab.

Beda dengan di Indonesia yang memiliki banyak bahasa karena memiliki banyak suku.

Kesamaan bahasa ini membuat dakwah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam lebih mudah dan cepat menyebar karena seluruhnya berbahasa Arab.

Wallāhu a'lam bishshawāb, yang jelas demikianlah, Allāh lebih tahu hikmahnya. Siapa yang Allāh pilih menjadi Rasūl-Nya dan dimana diturunkan, itu hak Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Ini hanya sekedar ijtihad dari para ulama tatkala ingin mencari sebab kenapa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam diutus di jazirah Arab.

Kemudian, ketika kita berbicara tentang suku Arab maka kita berbicara tentang nasab/keturunan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Beliau adalah keturunan Nabi Ismā'īl, dan Nabi Ismā'īl adalah keturunan Nabi Ibrāhīm.

Nabi Ibrāhīm bukan orang Arab dan bahasanya bukan bahasa Arab. Nabi Ibrāhīm lahir di 'Irāq, disuatu daerah namanya 'Urq. Oleh karenanya Arabnya Nabi Muhammad bukan Arab asli Yaman.

Para ulama menjelaskan suku Arab ada 3 model:

⑴ Al 'Arab Al Bāidah (العرب البائدة), Arab yang telah punah.

Kita katakan lafazh Arab itu asalnya kepada tempat yang bebatuan, padang pasir, tetapi diithlaqkan juga kepada penghuni tempat tersebut, sebagaimana penjelasan para ulama.

Banyak suku-suku Arab yang sudah punah yang sudah tidak ada lagi. Diantaranya:

• Suku 'Ād (kaumnya Nabi Hūd 'alayhi wa sallam).
• Suku Tsamūd (kaumnya Nabi Shālih 'alayhi wa sallam).

Allāh sebutkan kisah mereka dalam Al Qurān.

⑵ Al 'Arab Al 'Āribah (العرب العاربة), arab asli.

Kata para ulama, Arab asli kembali kepada suku Al Qahthaniyyah yang asalnya arab dari Yaman.

Diantaranya ada suku yang namanya Sabā. Dari Sabā ini keluar 2 suku yang sangat besar yaitu Kahlan dan Khimyar, dari kedua suku inilah muncul berbagai macam kabilah. Dan kabilah-kabilah tersebut sebagiannya dari Yaman berhijrah ke Mekkah dan Madinah.

⑶ Al 'Arab Al Musta'rabah (العرب المستعربة)

Adapun Arabnya Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam, dia bukan Arab Al-Bā'idah yang telah punah, bukan juga Arab asli. Tetapi Beliau Arab Al Musta'rabah, Arab yang tadinya bukan Arab tetapi menjadi Arab.

Kenapa?

Karena Nabi Muhammad adalah keturunan Nabi Ibrāhīm dan Nabi Ibrāhīm bukan orang Arab.

Kalau kita lihat dari ras, ras itu kembali kepada ayah. Kalau kita kembalikan alur Nabi kepada ayah, maka dia akan kembali kepada Nabi Ibrāhīm dan beliau bukan Arab.

Lalu siapa diantara anak Nabi Ibrāhīm yang menjadi Arab? Yaitu Nabi Ismā'īl.

Kita cukupkan disini saja, in syā Allāh besok kita lanjutkan lagi.

وبالله التوفيق والهداية
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
__________